A.
Pendahuluan
Pendidikan
merupakan suatu proses untuk meningkatkan kemampuan seorang individu dalam
mengembangkan dirinya, sehingga ia dapat mengahdapi setiap perubahan menuju
perubahan tersebut dengan lebih baik. Melalui pendidikan seseorang dapat
meningkatkan kreativitas, intelektual, pengalaman dan kemampuan dalam
mengembangkan segala hal salah satu diantaranya perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Dalam proses pendidikan di Sekolah, peserta didik tidak hanya
mendapatkan pengembangan dalam sisi ilmu pengetahuan saja, namun biimbangi
dengan pendidikan emosi dan karakter, diharpakan siswa memiliki kemapuan untuk
beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi dalam dirinya dan
lingkungannya menuju kearah yang positif.
Banyaknya
kasus yang terjadi dilingkungan pendidikan seperti adanya kekerasan terhadap
siswa, penganiayaan guru dan perilaku menyimpang lainnya menunjukan adanya
degradasi moral dan akhlak yang terjadi pada anak didik dilingkungan
pendidikan. Tentu saja hal ini sangat membuat prihatin semua kalangan, seakan
menjadi sebuah petunjuk minimnya pendidikan moral. Oleh karena itu diperlukan
adanya seorang kenselor pendidikan yang berkompeten dalam bidangnya sehingga
bisa membawa perubahan dan perkembangan karakter siswa menjadi lebih baik. Seperti
diketahui bersama tugas seorang konselor yaitu membawa perubahan dengan cara
membantu menyelesaikan persoalan siswa dan membantu mengembangkan potensi yang
dimiliki oleh siswa itu sendiri.
Oleh
karena itu, pada makalah ini penulis akan memaparkan mengenai peran konselor di
Sekolah, kriteria masalah konseli, Karakteristik konselor, cakupan konseling
pendidikan dan tantangan yang dihadapi oleh konselor di Sekolah. Hal ini
diharapkan dapat menjadi jawaban agar konselor memiliki kemampuan menyelesaikan
permasalahan dengan baik.
B.
Pembahasan
Konseling Pendidikan
1.
Peran
Konselor Sekolah (Sely Wahyuningrum)
Profesi
konselor sekolah merupakan pekerjaan yang memerlukan skill yang cukup mumpuni untuk bisa diterapkan dalam proses
kegiatan konseling. Konselor sebagai aktor pelengkap dari individu yang
memiliki masalah. Banyak masalah yang dialami oleh peserta didik, dan peserta
didik membutuhkan peran konselor untuk bisa membantu menemukan solusi yang
tepat dan mengembangkan potensi dari munculnya solusi yang ada. Dalam membantu
menemukan solusi masalah para peserta didik, konselor mempersembahkan jasa
konseling untuk peserta didik agar peserta didik mampu menciptakan suasan
pendidikan yang baik bagi didrinya sendiri (Lair, 1968: 861).
Dalam
aspek sosialnya pun, seorang konselor harus mampu menciptakan kesejahteraan
antar peserta didik dengan lingkungannya yang tidak lain akan berpengaruh pada
perkembangan manusia itu sendiri (Hosmand, 2004: 89). Jasa konseling yang
diberikan konselor untuk membantu peserta didik harus dilakukan secara
menyeluruh (Low, 2009: 78). Profesi sebagai konselor tidak hanya berkaitan
dengan konseli yang dihadapinya, yang menjadi nomor satu adalah bagaimana
konselor tersebut mampu menciptakan inovasi dari dalam dirinya dari hasil
kinerja memberikan jasa konseling, setelah diberikannya layanan konseling,
diharapkan peserta didik atau konseli mampu mengerjakan dengan gaya
konselingnya masing-masing (Hitchock, 1986: 98).
Kajian
mengenai peranan konselor sekolah ini akan menjadi bahan pertimbangan
penelitian yang akan dilakukan di Sekolah Menengah Atas Bina Muda Cicalengka..
Adapun urgensi yang terkandung dari adanya peranan konselor sekolah, yaitu
sebagai tolak ukur berhasilnya sebuah kegiatan konseling yang diberikan kepada
para peserta didik di sekolah.
2. Kriteria
Masalah Konseli (Vina Robi’ah Adawiyah)
Dalam
proses konseling, seseorang yang memberikan bantuan disebut dengan Konselor,
sedangkan yang memerlukan bantuan disebut dengan konseli. Konseli ini datang
dengan membawa permasalahannya masing-masing. Sebagaimana kita ketahui bersama,
tugas seorang konselor tidak hanya terfokus pada peserta didik yang bermasalah,
akan tetapi juga berupaya untuk mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki
oleh peserta didik. Diantara permasalahan yang timbul adalah bagaimana upaya
konselor dalam menyesuaikan antara kemampuan yang dimiliki peserta didik dengan
capaian prestasi (Lair, 1968: 858).
Permasalah
lainnya yang sering timbul adalah adanya permasalahan pribadi siswa yang dapat
mempengaruhi terhadap pola belajar siswa dan pola interaksi siswa dalam
kegiatan belajar mengajar (Hosmand, 2014). Contohnya seperti adanya
permasalahan perceraian orang tua yang notabenenya permasalahn pribadi
menjadikan siswa murung dan menurun dalam belajar. Selain itu juga, ada
permasalah konseli lainnya yang berasal dari faktor eksternal, yaitu adanya
konseli atau siswa yang terlibat dalam tindakan kejahatan dan terindikasi
mengalami gangguan mental (Low, 2009). Hal ini tentu menajdi fokus perhatian
bagi seorang konselor dalam menghadapi permasalahan-permasalah siswa/konseli.
Kajian
kriteria masalah konseli ini akan menjadi rujukan penulis dalam melakukan
penelitian di Pondok Pesantren Al-Wafa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, dalam
penelitian kajian permasalahan santri sebagai peserta didik di lembaga
pendidikan pesantren.
3. Ruang
Lingkup Konseling Pendidikan (Siti Fauziah Rahmah)
Ruang lingkup
Konseling Pendidikan merupakan batasan-batasan yang digunakan para konselor
dalam menjalankan proses konseling pendidikan di sekolah. Konseling pendidikan
merupakan salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam penanganan masalah
siswa disekolah, selain peran dan fungsi, konseling pendidikan juga memiliki
ruang lingkup yang mencakup berbagai aspek, yaitu aspek perubahan afektif, kognitif, dan psikomotorik (Lair,1968:859).
Aspek lain
dalam ruang lingkup konseling pendidikan mencakup filsafat program, pedagogi,
dan fitur kurikuler (Hosmand, 2004:82). Aspek-aspek ini digunakan dalam proses
konseling disekolah sebagai batasan dalam pemberian layanan konseling
pendidikan.
Selain
daripada upaya pemberian bantuan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh para
siswa, konseling pendidikan juga mencakup ruang lingkup yang mengarah pada
identifikasi lima tema,yaitu : (a) development pribadi (b) penemuan diri dan klarifikasi, (c)
pendidikan tambahan dan pelatihan, (d) peran, dan (e) pengawasan (Henriksen,
2015:63).
Urgensi konseling pendidikan pada dewasa ini sangatlah
diperlukan guna menunjang perkembangan dan peningkatan mutu kualitas
siswa-siswi dilingkungan MA Al-Hidayah Warungkondang Cianjur, selain itu
konseling pendidikan menjadi salah satu media aspirasi siswa siswi terhadap berbagai
aspek yang menjadi bagian dari perangkat sekolah.
4. Kararkteristik
Konselor Sekolah (Yulinar Pratiwi)
Sebagai seorang konselor yang akan menjadi
tenaga kerja sebagai guru yang memiliki banyak keahlian- keahlian dan
berkompeten, konselor menjadi contoh tauladan bagi siswa- siswinya. Konselor
dituntut serta melibatkan aspek agama dalam setiap program kerja yang akan di
canangkan untuk siswa- siswinya di sekolah. Tak hanya itu konselor juga
dituntut untuk menyematkan aspek spiritual di dalamnya karena aspek agama dan
spiritual yang tidak dapat dipisahkan. Untuk menjadi kriteria sebagai seorang
konselor, konselor harus terbiasa di latihan dengan menggunakan agama dan
spiritual. Dalam melakukan program konseling, konselor di tuntut untuk
menyematkan agama dan spiritual di dalamnya. Sebagai seorang konselor yang akan
menjadi tenaga didik yang akan menjadi contoh bagi siswa- siswinya (Henriksen,
2015:60).
Yang menjadi faktor utama dalam
kepribadian seorang konselor yaitu dalam memberikan konseling yang berkualitas
dan baik, seperti salah satu diantaranya yaitu akrab dengan peraturan di
sekolah dan pendidikannya. Dengan mendekatkan kepada peraturan dan sistem
pendidikannya di sekolah maka akan memberikan proses konseling yang berkualitas
yang bisa di berikan kepada setiap siswa dan siswinya di sekolah. Dengan
demikian kualitas sebagai konselor yang yang dapat dilihat bagaimana seorang
konselor dapat akrab dengan peraturan sekolah dan sistem pendidikannya (Low,
2009:72). Dalam menghadapi proses akhir, konselor harus memberikan value kepada peserta didik atau konseli
yang baik diserta pula dengan alasan yang baik (Hitchock, 1986: 96).
Dengan program pendidikan konseling yang
berorientasi dengan menekankan kepribadian konselor yang berfokus pada
pemahaman diri siswa dan penggunaan diri dalam proses belajar agar berkembang
positif kepada diri orang lain. Dengan pertimbangan pada setiap program yang
akan di canangkan oleh konselor, dengan melibatkan aspek spiritual dan agama
hal ini menjadi tolak ukur konselor sebagai pendidik di sekolah. Urgensi yang
akan menjadi tolak ukur pada program konselor yang melibatkan aspek spiritual
dan agama ini bisa di terapkan pada Madratsah Aliyah Negeri Karawang. Dengan
adanya aspek spiritual, agama bisa menjadikan kepribadian konselor memiliki
karakter yang berkulitas yang bisa akrab dengan aturan sekolah dan sistem
pendidikannya (Hosmand,2004:83)
5. Tantangan
Konselor di Sekolah (Shielvy Villasca Fitri)
Tantangan
merupakan sesuatu hal yang kita lakukan dan mempunyai maksud untuk membangkitkan
kemampuan. Tantangan berlaku bagi siapapun, dimana pun, bagi individu maupun
kelompok yang memiliki persoalan dan harus diselesaikan. Salah satu contoh
tantangan yang ada di sekolah dan harus menjadi perhatian konselor yaitu
prestasi akademik para peserta didik. Siswa memerlukan bimbingan dan bantuan
untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri, untuk mengembangkan potensi
siswa konselor mendapatkan tantangan yaitu perlu menumbuhkan motivasi siswa,
menemukan tujuan keinginan siswa dan mengetahui hubungan sosialisasi siswa, itu
menjadi ruang lingkup konselor dalam membantu siswanya (Lair, 1968:861)
Tantangan
lainnya ialah konseling mendesak konselor dan konselinya untuk menjaga komitmen
dan ikatan yang telah dibangun. Selain itu diperlukan keahlian dalam menjaga
wilayah agar aman karena perubahan yang akan dialami (Hosmand, 2004:87).
Tantangan juga dapat dikategorikan kedalam 4 pokok yang berbeda yaitu pertama,
tantangan internal berupa masalah yang terkait dengan klien, sikap konselor
dalam proses konseling dan keinginan klien untuk mengunjungi konseling.
Tantangan eksternal yaitu perubahan sosial-ekonomi yang terjadi di luar
sekolah, termasuk budaya dan globalisasi yang berdampak mempengaruhi siswa
untuk mengikuti mode yang ada. Ketiga ada tantangan sistem yaitu program
bimbingan yang dilaksanakan oleh pemerintah, sekolah atau lembaga konseling.
Keempat, tantangan pribadi yaitu keahlian konselor itu sendiri berupa
pendidikan konselor, kontrol, sikap konselor terhadap tataan yang ada di
sekolah (Low, 2009:71)
Beberapa tantangan diatas akan saya jadikan bahan penelitian di SMAN 2
Majalaya. Tantangan konselor dijadikan sebagai bahan pertimbangan bahwa menjadi
konselor bukan merupakan profesi yang sederhana, melainkan individu yang
menjadi konselor memerlukan keterampilan yang baik dibidangnya seperti yang
telah dijelaskan diatas.
C.
Kesimpulan
Konseling Pendidikan merupakan proses upaya bantuan terhadap siswa dan
siswi dilingkungan sekolah, bantuan yang diberikan konselor sekolah terhadap
siswa dan siswi terdapat dalam berbagai aspek, yaitu : aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri, dan
peningkatan mutu kualitas, sehingga siswa dan isswi dapat menjalakan hidupnya
sesuai dengan fungsi dan perannya sebagai siswa di sekolah.
D.
Daftar Pustaka
Henriksen, R.C.,
Polonyi, M.A. (2015). Counseling Students’Perception of Religious/Spiritual
Counseling Training: A Qualitative Study. Journal of Counseling &
Development. 93(1), 59-69
Hitchock, R. A.
(1986). An Epistemology of Counseling: Implications for Counselor Education and
Research. Counselor Education and Supervision. 26(2), 95-102
Hosmand, L. T.
(2004). The Transformative potential of Counseling Education. Journal of
Humannistic Counseling, Education and Development. 43(1). 82-90
Lair, G.S. (1968).
Educational Counseling: Concern of the School Counselor. Personnel and
Guidance Journal. 46 (9), 858-861
Low, P.K. (2009).
Considering the Challenges of Counseling Practice in Schools. Journal Adv.
Counseling. 3(1), 71-79